ISSN 2456-2653
server-injected
ArticlesOpen Access

Historical Milestones of the Development of Islam in Buton, Indonesia

DOI: 10.18535/sshj.v8i08.1261· Pages: 4546-4554· Vol. 8, No. 08, (2024)· Published: August 21, 2024
PDF
Views: 234 PDF downloads: 141

Abstract

In the Islamic world of Indonesian archipelago even in the Southeast Asia region, Buton was a sultanate whose development cannot be separated from the network of Islamic transmission in the region. As an Islamic kingdom, the historical milestones of the development of Islam in Buton took place in three phases, namely the phase of the formation of the Buton Sultanate since the mid-16th century, the phase of adapting Islamic values, especially the teachings of Sufism in Buton's constitutional system since the first quarter of the 17th century, and the phase of disseminating Islamic thought to society through Islamic literature. The last phase took place since the 17th century and reached its peak in the 19th century. The Buton Sultanate ended in the mid-20th century.

Keywords

Historical milestonedevelopment of IslamButon SultanateIndonesia

References

  1. Anceaux, J.C., 1987. Wolio Dictionary; Wolio–English–Indonesian. KITLV, Foris Publications Holland. Dordrecht –Holland/Providence –USA.Google Scholar ↗
  2. Abdullah, Muh. (2009). Naskah Keagamaan dan Relevansinya dengan Proses Islamisasi Buton, dalam “Naskah Buton Naskah Dunia: Prosiding Simposium Internasional IX Pernaskahan Nusantara di Kota Baubau”, editor M. Yusran Darmawan. Baubau: Penerbit Respect.Google Scholar ↗
  3. Addin, Asnur, dkk (2011). Israrul Umrai fiy Adatil Wuzrai; Undang-Undang Martabat Tujuh dan Sifat Dua Puluh Kesultanan Buthuni. Baubau. Penerbit: Yayasan Fajar Al Buthuni.Google Scholar ↗
  4. Dalimunthe, Latifa Annum. Kajian Proses Islamisasi di Indonesia: Studi Pustaka, dalam Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Vol.12, Nomor 1, Juni 2016.Google Scholar ↗
  5. Husda, Husaini (2016). Islamisasi Nusantara (Analisis Terhadap Discursus Para Sejarawan), dalam Jurnal Adabiya, Vol.18, Nomor 35, Agustus 2016.Google Scholar ↗
  6. Hasaruddin dan Munawir Mansyur (2019). Tula-Tulana Raja Indara Pitara: Alih Aksara dan Alih Bahasa. Jakarta. Penerbit: Perpustakaan Nasional R.I.Google Scholar ↗
  7. Ikram, Achadiati dkk (2001). Katalog Naskah Buton: Koleksi Abdul Mulku Zahari. Jakarta. Penerbit: Yayasan Obor Indonesia.Google Scholar ↗
  8. Maula, Muhammad Jadul, dkk (2011). Kesepakatan Tanah Wolio; Ideologi Kebhinekaan dan Eksistensi Budaya Bahari di Buton. Jakarta. Penerbit: Titian Budaya.Google Scholar ↗
  9. Munafi, La Ode Abdul (2009). Urgensi Pelestarian Naskah Kesusastraan Buton, dalam “Naskah Buton Naskah Dunia: Prosiding Simposium Internasional IX Pernaskahan Nusantara di Kota Baubau”, editor M. Yusran Darmawan. Baubau: Penerbit Respect.Google Scholar ↗
  10. Munafi, La Ode Abdul dan Andi Tenri, 2014. Dinamika Tanah Wolio; Sejarah, Kontinuitas, dan Perubahan. Makassar. Fahmis Pustaka.Google Scholar ↗
  11. Munafi, La Ode Abdul, dkk (2015). Kebudayaan Buton. Makassar. Penerbit Identitas Unhas.Google Scholar ↗
  12. Munafi, La Ode Abdul (2016). Etnografi Kaomu: Strategi Bertahan Kelompok Bangsawan dalam Struktur Masyarakat Buton, “Disertasi” Program Doktor Antropologi FISIP Unhas. Makassar. Tidak diterbitkan.Google Scholar ↗
  13. Munafi, La Ode Abdul (2017). Merawat Kebhinekaan Menguatkan Integrasi Bangsa: Tinjauan Antropologis tentang Ideologi Multikulturalisme dalam Kearifan Buton, “Orasi Ilmiah”, disampaikan pada Upacara Dies Natalis ke-35 dan Wisuda Sarjana ke-35 serta Program Pascasarjana ke-15 Universitas Dayanu Ikhsanuddin, 9 Juli 2017.Google Scholar ↗
  14. Munafi, La Ode Abdul dan L. M. Nasrun S. (2021). Mengenal Kawasan Cagar Budaya Benteng Wolio: Benteng Keraton Kesultanan Buton. Kendari. Penerbit: UHO Press.Google Scholar ↗
  15. Pudjiastuti, Titiek (2009). Naskah Buton yang Mengesankan, dalam “Naskah Buton Naskah Dunia: Prosiding Simposium Internasional IX Pernaskahan Nusantara di Kota Baubau”, editor M. Yusran Darmawan. Baubau: Penerbit Respect.Google Scholar ↗
  16. Schoorl, Pim (JW) (2003). Masyarakat, Sejarah, dan Budaya Buton. Jakarta. Penerbit Jambatan-Perwakilan KITLV.Google Scholar ↗
  17. Yunus, Abdul Rahim (1995). Posisi Tasawuf dalam Sistem kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abad ke-19. Jakarta: Penerbit INIS.Google Scholar ↗
  18. Yunus, Abdul Rahim (1996). Martabat Tujuh Versi Kesultanan Buton dalam Sejarah dan Naskah, “Orasi Dies Natalis” yang disampaikan pada Wisuda VII dan Dies Natalis XIII Universitas Dayanu Ikhsanuddin, 19 Oktober 1996.Google Scholar ↗
  19. Yunus, Abdul Rahim (2011). Buton, Tasawuf, dan Pemerintahan Islam, dalam “Menafsir Ulang Sejarah dan Budaya Buton”, editor M. Mu’min Fahimuddin. Baubau: Penerbit Respect.Google Scholar ↗
  20. Zuhdi, Susanto (2012). Perahu yang Berlayar di Antara Karang-Karang Kesultanan Buton (1491-1960), dalam “Negeri Seribu Benteng: Lima Abad Dinamika di Kota Baubau”, editor Yusran Darmawan dan Muh. Mu’min F. Baubau: Penerbit Respect.Google Scholar ↗
  21. Zahari, A.M, 1977. Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni. Jakarta. Penerbit: Depdikbud.Google Scholar ↗
  22. Anceaux, J.C., 1987. Wolio Dictionary; Wolio–English–Indonesian. KITLV, Foris Publication Netherlands. Dordrecht –Holland/Providence –US.Google Scholar ↗
  23. Abbas, I., & Yunianto, T. (2022). The spices trade route in mollucas in the XVI and XVII centuries. Intl J Educ Soc Sci Res, 5(5), 105-116.Google Scholar ↗
  24. Abdullah, Muh. (2009). Naskah Keagamaan dan Relevansinya dengan Proses Islamisasi Buton, dalam “Naskah Buton Naskah Dunia: Prosiding Simposium Internasional IX Pernaskahan Nusantara di Kota Baubau”, editor M. Yusran Darmawan. Baubau. Publisher: Repect.Google Scholar ↗
  25. Addin, Asnur, et al. (2011). Israrul Umrai fiy Adatil Wuzrai; Undang-Undang Martabat Tujuh dan Sifat Dua Puluh Kesultanan Buthuni. Baubau. Publisher: Fajar Al Buthuni Foundation.Google Scholar ↗
  26. Asnawi, N., Wicaksono, A. T. S., & Setyaningsih, N. D. (2020). Measuring the economic Islamicity index in the archipelagic Indonesia: does spatial role affect it?. Journal of Talent Development & Excellence, 12 (1), 3464-3489.Google Scholar ↗
  27. Dalimunthe, Latifa Annum. Kajian Proses Islamisasi di Indonesia: Studi Pustaka, dalam Jurnal Studi Agama dan Masyarakat. Vol.12, Number 1, June 2016, 115-125.Google Scholar ↗
  28. Darmawan, M.Y. ed. (2009). “Naskah Buton Naskah Dunia: Prosiding Simposium Internasional IX Pernaskahan Nusantara di Kota Baubau”. Baubau Publisher: Respect.Google Scholar ↗
  29. Husda, Husaini. Islamisasi Nusantara (Analisis Terhadap Discursus Para Sejarawan), Jurnal Adabiya, Vol.18, Number 35, August 2016, 17-29Google Scholar ↗
  30. Hasaruddin and Munawir Mansyur (2019). Tula-Tulana Raja Indara Pitara: Alih Aksara dan Alih Bahasa. Jakarta. Publisher: National Library of the Republic of Indonesia.Google Scholar ↗
  31. Ikram, Achadiati et al. (2001). Katalog Naskah Buton: Koleksi Abdul Mulku Zahari. Jakarta. Publisher: Yayasan Obor Indonesia.Google Scholar ↗
  32. Khamami, A. R. (2022). Nasionalis-cum-Nahdliyin: a new identity for nominal Javanese Muslims. Contemporary Islam, 16(2), 507-527.Google Scholar ↗
  33. Kholmuminov, F. Z. (2022). Samarkand scholars who introduced Islam to Indonesia. Asian Journal Of Multidimensional Research, 11(9), 43-49.Google Scholar ↗
  34. Maryam, A., & Basri, M. (2024). The Impact of Islamic Business Ethics on the Profits of Muslim Traders in the City of Sambas, Indonesia. IQTISHODUNA: Jurnal Ekonomi Islam, 13(1), 153-174.Google Scholar ↗
  35. Maula, Muhammad Jadul, et al. (2011). Kesepakatan Tanah Wolio; Ideologi Kebhinekaan dan Eksistensi Budaya Bahari di Buton. Jakarta. Publisher: Titian Budaya.Google Scholar ↗
  36. Munafi, La Ode Abdul (2009). Urgensi Pelestarian Naskah Kesusastraan Buton, dalam “Naskah Buton Naskah Dunia: Prosiding Simposium Internasional IX Pernaskahan Nusantara di Kota Baubau”, editor M. Yusran Darmawan. Baubau. Publisher: Respect.Google Scholar ↗
  37. Munafi, La Ode Abdul and Andi Tenri, 2014. Dinamika Tanah Wolio: Sejarah, Kontinuitas, dan Perubahan. Makasar. Publisher: Fahmis Pustaka.Google Scholar ↗
  38. Munafi, La Ode Abdul, et al (2015). Kebudayaan Buton. Makasar. Identitas Unhas Publisher.Google Scholar ↗
  39. Munafi, La Ode Abdul (2016). Etnografi Kaomu: Strategi Bertahan Kelompok Bangsawan dalam Struktur Masyarakat Buton, Doctoral “Dissertation” Program of Anthropology, FISIP Unhas. Makasar. Unpublished.Google Scholar ↗
  40. Munafi, La Ode Abdul (2017). Merawat Kebhinekaan Menguatkan Integrasi Bangsa: Tinjauan Antropologis tentang Ideologi Multikulturalisme dalam Kearifan Buton, “Orasi Ilmiah”, “Scientific Oration”, delivered at the 35th Anniversary Ceremony and the 35th Undergraduate Graduation and 15th Postgraduate Program of Dayanu Ikhsanuddin University, July 9, 2017.Google Scholar ↗
  41. Munafi, La Ode Abdul and L.M. Nasrun S. (2021). Mengenal Kawasan Cagar Budaya Benteng Wolio: Benteng Keraton Kesultanan Buton. Kendari. Publisher: UHO Press.Google Scholar ↗
  42. Peacock, A. C. S. (2019). Arabic Manuscripts from Buton, Southeast Sulawesi, and the Literary Activities of Sultan Muḥammad ʿAydarūs (1824–1851). Journal of Islamic manuscripts, 10(1), 44-83.Google Scholar ↗
  43. Schoorl, Pim (JW) (2003). Masyarakat, Sejarah, dan Budaya Buton. Jakarta. Publisher Jambatan-Perwakilan KITLV.Google Scholar ↗
  44. Suseno, S. (2022). The Buton Sultanate Fortresses in Eastern Indonesia: A Trace of the Sultanate's Military Supremacy. KnE Social Sciences, 591-603.Google Scholar ↗
  45. Yunus, Abdul Rahim (1995). Posisi Tasawuf dalam Sistem kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abad ke-19. Jakarta: INIS Publisher.Google Scholar ↗
  46. Yunus, Abdul Rahim (1996). Martabat Tujuh Versi Kesultanan Buton dalam Sejarah dan Naskah, "Dies Natalis Oration" delivered at the 7th Graduation and 13th Dies Natalis of Dayanu Ikhsanuddin University, October 19, 1996.Google Scholar ↗
  47. Yunus, Abdul Rahim (2011). Martabat Tujuh Versi Kesultanan Buton dalam Sejarah dan Naskah, editor M. Mu'min Fahimuddin. Baubau. Publisher: Respect.Google Scholar ↗
  48. Zuhdi, Susanto (2012). Perahu yang Berlayar di Antara Karang-Karang Kesultanan Buton (1491-1960), in “Negeri Seribu Benteng: Lima Abad Dinamika di Kota Baubau”, editor Yusran Darmawan and Muh. Mu’min F. Baubau. Publisher: Respect.Google Scholar ↗
  49. Zahari, A.M, 1977. Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni. Jakarta. Publisher: Ministry of Education and Culture.Google Scholar ↗
Author details
La Ode Abdul Munafi
Universitas Dayanu Ikhsanuddin
✉ Corresponding Author
👤 View Profile →🔗 Is this you? Claim this publication