ISSN 2456-2653
server-injected
ArticlesOpen Access

Women's Participation in Productive Economic Activities in the Context of Improving the Socio-Economic Status of Fishermen's Communities in Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province, Indonesia

,
DOI: 10.18535/sshj.v8i07.1205· Pages: 4437-4451· Vol. 8, No. 07, (2024)· Published: July 19, 2024
PDF
Views: 199 PDF downloads: 288

Abstract

Women from fishing families act as work partners for men in a nomadic life at sea. After settling down, the women stay idle at home to look after the children and prepare for the family's daily needs. This research aims to analyze the forms of women's participation in productive economic activities in order to improve the socio-economic status of fishing communities. This research was carried out on women from traditional fishing families in coastal villages in Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province. The population of this study were all women from traditional fishing families in coastal villages. Next, village sample selection was carried out purposively, with the criteria being that villages had a traditional fishing population, were easily accessible to the research team, in each sub-district. The data collected was then analyzed using descriptive analysis. The research results show that firstly, women from fishing families naturally have productive economic activities in order to improve their socio-economic status. Second, there are basic skills based on the socio-cultural environment that have been developed by female fishermen, namely: making dried fish, smoked fish, making shrimp paste, making crab sticks, making fish floss, and making fish dumplings/nuggets. And third, there are two groups of forms of productive skills based on the socio-cultural environment that are applicable for female fishermen, namely: (1) Skills that have been developed, and (2) new skills that are innovations from outside, but the raw materials are available in the local environment

Keywords

Women's ParticipationProductive EconomyFishermen's Community

References

  1. Adimihardja, K dan Hikmat, H. (2001). PRA Participatory Research Appraisal dalam Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat. Bandung: Humaniora Utama Press.Google Scholar ↗
  2. Al-Qur’an dan Terjemahnya. (1989). Kementerian Agama Republik Indonesia. Surabaya:Google Scholar ↗
  3. Anwar. (2003). Pengembangan Model Pembelajaran Keterampilan Berbasis Sosial Budaya bagi Perempuan Keluarga Nelayan (Studi Perubahan Sosial Melalui Introduksi Teknologi pada Keluarga Nelayan Suku Bajo di Kabupaten Kendari). Bandung: Disertasi Doktor pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia.Google Scholar ↗
  4. Anwar. (2006). Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Melalui Pelatihan Keterampilan Budi Daya Ikan Laut Dalam Keramba (Kaji Tindak pada Masyarakat Nelayan Suku Bajo di Kecamatan Soropia Kabupaten Kendari Sulawesi Tenggara). Laporan Hasil Penelitian. Kendari: Universitas Haluoleo.Google Scholar ↗
  5. Asmin. (2002). “Konsep dan Metode Pembelajaran untuk Orang Dewasa”. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Nomor 034. Tahun ke-8 Januari 2002.Google Scholar ↗
  6. Berstecher, D. (1985). Education and Rural Development: Issues for Planning and Research. Paris: UNESCO-IIEP.Google Scholar ↗
  7. Cluttebuck dan Karnaghan. (2000). The Art of HRD: The Power of Empowerement. New Delhi: Crest Publishing House.Google Scholar ↗
  8. Delors, J. (1996). Leraning: The Treasure Within. Paris: UNESCO.Google Scholar ↗
  9. Depdikbud. (1999). Konferensi Pendidikan Indonesia Mengatasi Krisis-Menuju Pembaruan. Jakarta: 23-24 Februari 1999. Depdiknas-BAPPENAS, Bank Dunia-Bank Pembangunan Asia.Google Scholar ↗
  10. Depdiknas. (2002). Pedoman Umum Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Keterampilan Hidup (life skills) Melalui Pendidikan Broad Based Education Dalam Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda. Jakarta: Ditjen PLS dan Pemuda-Depdiknas.Google Scholar ↗
  11. Fakih, M. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka PelajarGoogle Scholar ↗
  12. Hasibuan, N. (1999). Kemiskinan Struktural di Indonesia: Menembus ke Lapisan Bawah. Dalam jurnal Studi Indonesia. Nomor 1. Vol-7 Tahun 1999.Google Scholar ↗
  13. Idrus, R.B. et al. (1993). Partisipasi Wanita dalam Usaha Mencari Nafkah pada Berbagai Bidang Pekerjaan di Sulawesi Selatan. Lembaga Penelitian Unhas Ujung Pandang. Edisi Mei 1993.Google Scholar ↗
  14. Illich, I. (2001). Matinya Gender. Diterjemahkan oleh Omi Intan Naomi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Google Scholar ↗
  15. Inkeles, A dan Smith, D.H. (1974) Becoming Modern: Individual Change in Six Developing Countries. Cambridge: Harvard University Press.Google Scholar ↗
  16. Istiadah. (1999). Pembagian Kerja Rumah Tangga dalam Islam. Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan Gender, Solidaritas Perempuan, The Asia Foundation.Google Scholar ↗
  17. Jones, D. (1988). Adult Education and Cultural Development. London: Routledge.Google Scholar ↗
  18. Kindervatter, S. (1979). Nonformal Education as an Empowering Process. Massachusetts:Google Scholar ↗
  19. Mosse, J.C. (2002). Gender dan Pembangunan. Diterjemahkan oleh: Hartian Silawati. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Google Scholar ↗
  20. Qoid, A. et al. (2000). Studi Rekayasa Model Pembinaan Kelompok Masyarakat Nelayan Miskin di Pedesaan Pantai Jawa Timur. Dalam Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Vol.12 No.1 Februari 2000.Google Scholar ↗
  21. Saraka. (2002). “Model Pembelajaran Swaarah dalam Pengembangan Sikap Mental Wiraswasta”. Disertasi Doktor pada PPs UPI Bandung, tidak diterbitkan.Google Scholar ↗
  22. Soekartawi. (1999). Strategi Mengentas Kemiskinan di Indonesia Melalui IDT. Dalam jurnal Studi Indonesia. Nomor 2. Vol-7 Tahun 1999Google Scholar ↗
  23. Srinivasan, L. (1977). Perspectives on Non-formal Adult Learning: Functional Educational Education for Individual, Community and National Development. New York: World Education.Google Scholar ↗
  24. Sudjana, D. (2000). Manajemen Program Pendidikan untuk Pendidikan Luar Sekolah dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung: Falah Production.Google Scholar ↗
  25. Sudjana, D. et al. (1999). Kaji Tindak Pengembangan Sumber Daya Usia Muda dan Wanita di Wilayah Pembangunan Bandung Raya dalam Memasuki Industrialisasi. Dalam Mimbar Penelitian. No. 26 Juli 1995. p. 55-61.Google Scholar ↗
  26. Sugihen, B.T. (1997). Sosiologi Pedesaan (Suatu Pengantar). Jakarta: Raja Grafindo Persada.Google Scholar ↗
  27. Sumodiningrat, G. (1999). Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Gramedia.Google Scholar ↗
  28. Suriyani A, S. Saleh, and Akhmad. 2023. Capacity Building Empowerment of Weaver Groups Through Weaving Business Innovation at the Ikat Jata Kapa Weaving Center in Sikka Regency, East Nusa Tenggara Province, Indonesia, Indonesia. European Journal of Development Studies. Vol 3 Issue 2 pp.59-68.Google Scholar ↗
  29. Tampubolon, M. (2002). Problematika dan Prospek Pengembangan Masyarakat Desa Ditinjau dari Segi Pendidikan Nonformal. Dalam jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Nomor 039. Tahun ke-8Google Scholar ↗
  30. Trisnamansyah, S. (1984). Pengaruh Motif Berafiliasi, Keterbukaan Berkomunikasi, Persepsi dan Status Sosial Ekonomi Terhadap Perilaku Modern Petani (Studi terhadap warga kelompok tani peserta penyuluhan pertanian sebagai bentuk pendidikan luar sekolah di Pedesaan Jawa Barat). Disertasi Doktor pada FPs IKIP Bandung: tidak diterbitkan.Google Scholar ↗
  31. Umar, N. (1999). Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Paramadina.Google Scholar ↗
  32. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, Dan Petambak Garam. Jakarta: Sekretariat Negara RI.Google Scholar ↗
  33. Undang-Undang Nomor. 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan. Jakarta: Sekretariat Negara RI.Google Scholar ↗
  34. Usman, S. (1998). Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Google Scholar ↗
  35. Wood, J.T. (1994). Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.Google Scholar ↗
  36. Yacub, M. (2000). Suatu Opini Mengenai Reformasi Sistem Pendidikan Nasional. Dalam jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Nomor 037...Google Scholar ↗
  37. Zahara, T., Dj. (2002). Perilaku Berwawasan Lingkungan dalam Pembangunan Berkelanjutan Dilihat dari Keinovatifan dan Pengetahuan tentang Lingkungan. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Nomor 036.Google Scholar ↗
  38. Zaltman, G. dan Duncam, R. (1977). Strategies for Planned Change. New York: John Wiley & Sons.Google Scholar ↗
Author details
Anwar Hafid
Departemen of History Education, Fakulty of Teacher Training and Education Haluoleo University, Indonesia.
✉ Corresponding Author
👤 View Profile →
Akhmad akhmad
Muhammadiyah University Makassar, Indonesia,
👤 View Profile →🔗 Is this you? Claim this publication